Prenagen Esensis: Pendekatan Rasa Takut di Copywriting

Tahu kah anda salah satu cara efektif agar anak mau makan? Takuti dengan cerita hantu.  Caranya seperti yang saya kutip dari resensi buku parenting di milis Forum Lingkar Pena ini:

“Kalau kamu nangis terus, kalau gak diam, nanti kamu diculik kantong wewe!” kata ibu menakuti, lalu sang ayah menggedor pintu sebagai sound effek. Anak ketakutan dan kemungkinan besar mau makan. Tapi kedua orang tua tersebut sukses membuat anak jadi pengecut.

Dari cerita di atas, tujuan orangtua membuat anak makan berhasil. Tapi cara tersebut secara tidak langsung menanamkan ketakutan baru yang justru merugikan anak itu sendiri.

Lantas apa hubungannya dengan copywriting iklan?

Secara sadar atau tidak, banyak produsen yang terjebak menggunakan pendekatan rasa takut untuk menjual produknya. Bahkan jika iklannya sukses dan produknya laku terjual, produsen telah menanamkan ketakutan (pemahaman yang keliru) di benak konsumennya. Selain tidak simpatik, cara seperti ini dapat menjatuhkan kredibilitas produsen dan produknya di mata konsumen.

Salah satu iklan yang saya lihat ‘terpeleset’ menggunakan pendekatan rasa takut ini adalah Prenagen Esensis. Read more…

Copywriting Tips: Merebut Hati Konsumen dengan Copy yang Simpatik

Bayangkan anda datang ke sebuah bank.  Di depan bank, seorang petugas keamanan menyapa ramah dan menanyakan keperluan anda dengan sopan. Lalu dengan cekatan membukakan pintu dan menunjukkan bagian atau petugas yang anda tuju. Padahal, anda sebenarnya datang ke bank untuk mengajukan kredit.

Atau gampangnya, anda datang ke bank itu niatnya mau pinjem duit. Di sini kan kelihatan anda yang butuh jasa bank. Tapi, semua staf bank dari petugas keamanan sampai petugas kredit begitu ramah dan sopan melayani anda. Read more…

Copywriting Tips: Satu Pokok Pikiran

Tiap copywriter punya gaya dan teknik copywriting berbeda dalam menyampaikan pesan. Ada yang suka menggunakan copy iklan pendek dan langsung ke pokok masalalah. Ada juga yang membumbui copy iklan dengan drama sebelum masuk ke inti pesan. Panjang atau pendek tak jadi soal sebenarnya, selama copy iklan yang ditulis menyampaikan satu pokok pikiran. Read more…

Bahasa Konsumen: Manjakan Cita Rasa atau Manjakan Lidah?

BRI Kartu Kredit PromoPagi ini saya baca iklan promo kartu kredit BRI. Penawaran dalam iklan jelas: Diskon 30% untuk transaksi menggunakan kartu kredit BRI di beberapa rekanan (restoran) yang yang menyajikan masakan khas Asia.

Sekilas baca, semua tampak oke. Template layout cantik, gambar masakan khas Asia yang menggugah selera, splash penawaran (diskon) yang jelas, serta headline yang menarik.

Headline yang menarik? Tunggu dulu. Coba deh baca headline iklan yang saya tulis ulang ini:

Read more…

Headline: Don’t Make Me Think

Menarik perhatian memang tugas utama headline. Beberapa iklan yang baik menggunakan teknik Intriguing Headline, mengusik rasa ingin tahu pembaca dengan cara teasing. Beberapa lainnya lebih memilih Direct Hedline, memaparkan penawaran atau benefit utama langsung pada headline. Dengan teknik ini, tanpa membaca seluruh informasi di bodycopy, target audience sudah dapat menangkap pesan yang disampaikan. Contoh paling gampang liat aja headline iklan-iklan promo atau iklan yang bergaya hard-selling.

Tidak masalah pendekatan dan teknik apa yang digunakan dalam headline. Selama headline tersebut bisa menjalankan tugas utama menarik perhatian dan melakukan tindakan tertentu yang diharapkan.

Tapi sering terjadi, headline terjebak di daerah ‘abu-abu”. Pengin menggunakan teknik intriguing atau mengusik keingintahuan, tapi malah bikin bingung. Maksudnya mau direct, tapi ternyata tidak memaparkan penawaran atau benefit yang jadi selling point utama sama sekali.

Read more…

Menu Tanpa Tapi Yang (Masih) Ribet McDonald’s

Begini-begini, saya juga termasuk konsumen loh. Dan seperti konsumen yang lain, yang namanya menikmati penawaran dengan banyak batasan dan alasan sudah pasti jadi santapan sehari-hari. Yang saya maksud batasan dan alasan, ya apalagi kalo bukan tanda bintang (asterisk) yang mengacu pada syarat dan ketentuan (berlaku) di setiap promo.

Sudah bukan rahasia umum, kalo syarat dan ketentuan berlaku jadi senjata pamungkas sekaligus kartu truf terakhir di setiap penawaran promosi. Sengaja ditulis kecil di sudut layout iklan biar orang ribet dan males bacanya. Atau, syukur-syukur lewat begitu aja. Toh, yang penting promo-nya menarik perhatian dulu. Masalah konsumen langsung bablas beli atau order tanpa baca teliti, itu tanggung jawab konsumen dong. Orang sudah dikasih rambunya. Biar kecil kan yang penting bisa dibaca (bukan nyaman dibaca loh).
Read more…