Archive | Bedah Copy RSS feed for this section

Bahasa Konsumen: Manjakan Cita Rasa atau Manjakan Lidah?

BRI Kartu Kredit PromoPagi ini saya baca iklan promo kartu kredit BRI. Penawaran dalam iklan jelas: Diskon 30% untuk transaksi menggunakan kartu kredit BRI di beberapa rekanan (restoran) yang yang menyajikan masakan khas Asia.

Sekilas baca, semua tampak oke. Template layout cantik, gambar masakan khas Asia yang menggugah selera, splash penawaran (diskon) yang jelas, serta headline yang menarik.

Headline yang menarik? Tunggu dulu. Coba deh baca headline iklan yang saya tulis ulang ini:

Read more…

Headline: Don’t Make Me Think

Menarik perhatian memang tugas utama headline. Beberapa iklan yang baik menggunakan teknik Intriguing Headline, mengusik rasa ingin tahu pembaca dengan cara teasing. Beberapa lainnya lebih memilih Direct Hedline, memaparkan penawaran atau benefit utama langsung pada headline. Dengan teknik ini, tanpa membaca seluruh informasi di bodycopy, target audience sudah dapat menangkap pesan yang disampaikan. Contoh paling gampang liat aja headline iklan-iklan promo atau iklan yang bergaya hard-selling.

Tidak masalah pendekatan dan teknik apa yang digunakan dalam headline. Selama headline tersebut bisa menjalankan tugas utama menarik perhatian dan melakukan tindakan tertentu yang diharapkan.

Tapi sering terjadi, headline terjebak di daerah ‘abu-abu”. Pengin menggunakan teknik intriguing atau mengusik keingintahuan, tapi malah bikin bingung. Maksudnya mau direct, tapi ternyata tidak memaparkan penawaran atau benefit yang jadi selling point utama sama sekali.

Read more…

Menu Tanpa Tapi Yang (Masih) Ribet McDonald’s

Begini-begini, saya juga termasuk konsumen loh. Dan seperti konsumen yang lain, yang namanya menikmati penawaran dengan banyak batasan dan alasan sudah pasti jadi santapan sehari-hari. Yang saya maksud batasan dan alasan, ya apalagi kalo bukan tanda bintang (asterisk) yang mengacu pada syarat dan ketentuan (berlaku) di setiap promo.

Sudah bukan rahasia umum, kalo syarat dan ketentuan berlaku jadi senjata pamungkas sekaligus kartu truf terakhir di setiap penawaran promosi. Sengaja ditulis kecil di sudut layout iklan biar orang ribet dan males bacanya. Atau, syukur-syukur lewat begitu aja. Toh, yang penting promo-nya menarik perhatian dulu. Masalah konsumen langsung bablas beli atau order tanpa baca teliti, itu tanggung jawab konsumen dong. Orang sudah dikasih rambunya. Biar kecil kan yang penting bisa dibaca (bukan nyaman dibaca loh).
Read more…