Copywriting Tips: Merebut Hati Konsumen dengan Copy yang Simpatik

Bayangkan anda datang ke sebuah bank.  Di depan bank, seorang petugas keamanan menyapa ramah dan menanyakan keperluan anda dengan sopan. Lalu dengan cekatan membukakan pintu dan menunjukkan bagian atau petugas yang anda tuju. Padahal, anda sebenarnya datang ke bank untuk mengajukan kredit.

Atau gampangnya, anda datang ke bank itu niatnya mau pinjem duit. Di sini kan kelihatan anda yang butuh jasa bank. Tapi, semua staf bank dari petugas keamanan sampai petugas kredit begitu ramah dan sopan melayani anda.

Apa yang anda rasakan?

Ya, perasaan simpati dan dihargai. Karena bank sadar bahwa konsumen seperti anda yang menjadi sumber pendapatan utama, yang menjadikan bank tersebut eksis.  Karena itu, bank  berusaha melayani konsumen dengan baik. Salah satu wujudnya adalah dengan berusaha bertutur dan bertindak simpatik.

Lalu, apa hubungannya layanan simpatik dengan copywriting iklan?

Biar berupa tulisan, copy iklan kan sebenarnya mewakili lidah produsen. Copy yang baik, harusnya bisa menimbulkan perasaan simpatik konsumen. Nah seringkali, tanpa sadar iklan berbicara kurang simpatik dalam copy-nya.

“Itu sih sudah pasti diwanti-wanti sama agency iklan dong. Kan sebelum tayang, iklan sudah dicek beberapa kali dan mendapat persetujuan klien.  Masak iya, masih ada copy iklan yang kurang simpatik?”

Betul, semua agency iklan pasti menyortir iklan sebelum tayang. Tapi, banyak yang menganggap bagian iklan yang terpenting untuk dicermati dan diperiksa adalah headline dan bodycopy. Sisanya seperti keterangan tanda bintang dan lain-lain, kurang mendapat perhatian karena dianggap tidak terlalu penting.

Padahal copy iklan itu kan satu kesatuan. Ia mewakili ucapan klien secara utuh. Kalo ga percaya, ini contoh penulisan copy yang menurut saya cenderung kurang simpatik.

Gunakan Kartu Kredit BNI untuk semua transaksi Anda di luar negeri. Manfaatkan kurs rendah serta cicilan ringan SmartSpending 0,8% hingga 12 bulan*.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Layanan Telepon 24 jam BNI Call di (021) 5789 9999 atau 68888 dari ponsel Anda.

* Permintaan cicilan 0,8% dapat dilakukan dengan mengirimkan SMS ke 3346 dengan format  SmartSpending#nomor Kartu Kredit BNI.

Minimum transaksi cicilan 0,8% Rp 1.000.000,-.

Syarat dan ketentuan berlaku

Perhatikan copy yang saya cetak tebal.  Kalimat tersebut berfungsi menerangkan informasi kalimat yang bertanda bintang di bodycopoy (‘SmartSpending 0,8% hingga 12 bulan*). Di sini  kata ‘permintaan’ pada kalimat ‘Permintaan cicilan 0,8% dapat dilakukan…’ menurut saya kurang simpatik. Kenapa?

Karena terkesan, posisi nasabah (konsumen) sebagai peminjam lebih rendah dari bank yang mengeluarkan uang.  Karena itu, untuk menikmati promo cicilan 0,8% nasabah harus mengajukan permintaan kepada bank.

Memang ga salah sih, tapi rasanya kok ya jadi kurang simpatik. Seperti yang saya tulis di atas, bagaimanapun juga konsumen yang membesarkan usaha bank. Jadi ada simbiosis mutualisme. Ada kesetaraan.

Copywriting: menulis mekanisme dengan lebih simpatik

Menurut saya, contoh di atas terkesan kurang simpatik karena menggunakan nomina (kata ‘permintaan’) dan menggunakan struktur kalimat pasif.  Solusinya, gunakan saja verba.  Penggunaan verba dan struktur kalimat aktif di copy iklan.  Aplikasinya kira-kira seperti ini:

*Kirim SMS ke 3346 dan ubah transaksi menjadi cicilan 0,8%.  Format SMS: SmartSpending#nomor Kartu Kredit BNI.

Bandingkan dengan:

* Permintaan cicilan 0,8% dapat dilakukan dengan mengirimkan SMS ke 3346 dengan format  SmartSpending#nomor Kartu Kredit BNI.

Kata ‘Kirim’ adalah verba. Penggunaannya dalam struktur kalimat aktif  (Kirimkan SMS ke…) menjadikan  kalimat ini sebagai pentunjuk atau instruksi yang lugas tanpa terjebak menerangkan posisi konsumen dan bank.

Alternatif kedua:

Untuk mengubah transaksi menjadi cicilan 0,8%, kirim SMS ke 3346. Format SMS: SmartSpending#nomor Kartu Kredit BNI

Penulisan seperti ini, copy akan menjadi solusi atau jawaban santun dari pertanyaan konsumen saat membaca iklan ini: bagaimana cara menggunakan cicilan 0,8% dengan jangka waktu hingga 12 bulan?

Kesimpulan

Merebut hati konsumen kadang tidak selalu dengan penawaran bombastis.  Bahasa yang ‘santun’ sebagai bagian dari bentuk pelayanan, seringkali menjadi jembatan psikologis untuk memenangkan hati konsumen. Proses ini, seringkali terjadi di ranah bawah sadar konsumen. Dan dengan copywriting yang baik,  sebuah brand lebih mudah memenangkan hati konsumen dengan persuasi yang simpatik.

Twitter Digg Delicious Stumbleupon Technorati Facebook Email

3 Responses to “Copywriting Tips: Merebut Hati Konsumen dengan Copy yang Simpatik”

  1. Biasanya nasabah bank mengenyampingkan hal semacam itu, Mas. Buat mereka yang penting informasinya jelas sejelas2nya menyangkut transaksi mereka. Sekalipun mungkin terasa sarkasme, asal itu jelas…, ya “ditelan”. Yang penting redaksinya ngga “bersayap” dan akhirnya merugikan mereka. Tapi kalau mau perfect…, pastinya ya seperti yang mas Edwin tulis itu.

  2. Setuju mas Rudi. Bahkan, bisa jadi baik bank dan konsumennya juga sama-sama ga peduli sebenarnnya. Tapi ya seperti judul blog ini, saya cuma belajar menikmati copywriting dari sudut pandang konsumen. Dan kebetulan, saya memang salah satu pengguna kartu kredit BNI ini :-D

    Btw, terimakasih sudah mampir ke blog saya. Senang rasanya melihat seorang penulis (skenario) senior mau berkunjung ke sini. Salam kenal ya mas.

  3. Salam kenal juga, Mas. Saya juga senang…, apalagi ini pertama kalinya saya kenal dengan seorang Copywriter, he.., he…